Focal length atau panjang fokus lensa merupakan salah satu aspek teknis paling penting dalam sinematografi. Istilah ini sering digunakan oleh sinematografer dan sutradara untuk menjelaskan perspektif visual serta bagaimana penonton akan merasakan sebuah adegan. Dalam dunia perfilman, focal length tidak hanya sekadar angka yang tertera di lensa, melainkan juga sebuah bahasa visual yang memengaruhi emosi, ruang, kedekatan, bahkan psikologi penonton.
Artikel ini akan membahas secara mendalam lima focal length paling populer yang sering digunakan dalam pembuatan film, mengapa lensa tersebut dipilih, bagaimana efeknya terhadap gambar, dan contoh penerapannya dalam film-film terkenal.
Memahami Dasar Focal Length
Sebelum masuk ke pembahasan lima focal length populer, mari kita pahami dulu definisinya.
- Focal length adalah jarak antara pusat optik lensa dan sensor kamera (atau film) ketika lensa difokuskan pada objek yang jauh.
- Satuan pengukurannya adalah milimeter (mm).
- Panjang fokus menentukan sudut pandang (field of view) dan besarnya perbesaran (magnification).
Secara umum:
- Lensa wide-angle (14mm – 35mm) → sudut pandang luas, distorsi perspektif, sering dipakai untuk establishing shot.
- Lensa normal (40mm – 60mm) → mendekati cara mata manusia melihat dunia.
- Lensa telephoto (75mm ke atas) → sudut pandang sempit, efek kompresi ruang, cocok untuk close-up dramatis.
Dengan pemahaman ini, mari kita masuk ke lima focal length paling populer di perfilman.
1. 24mm — Lensa Wide untuk Menangkap Ruang
Lensa 24mm adalah salah satu pilihan klasik untuk menangkap ruang yang luas. Dengan sudut pandang yang lebar, lensa ini sering dipakai untuk:
- Establishing shot, memperkenalkan lokasi cerita.
- Tracking shot, mengikuti karakter dengan tetap mempertahankan konteks lingkungan.
- Dramatisasi ruang, memberi kesan besar, luas, atau monumental.
Efek visual:
- Memberi kedekatan pada karakter, karena kamera bisa mendekat tanpa kehilangan konteks.
- Sedikit distorsi pada pinggir frame, membuat garis terlihat lebih melengkung.
Contoh penggunaan:
- Birdman (2014) oleh Emmanuel Lubezki banyak menggunakan wide lens (24mm) untuk menciptakan kesan imersif.
- The Revenant (2015) juga memanfaatkan lensa lebar untuk menonjolkan lanskap alam yang liar dan luas.
2. 35mm — Lensa Favorit untuk Realisme
Banyak sinematografer menyebut 35mm sebagai lensa paling serbaguna. Tidak terlalu lebar, tidak terlalu sempit. Lensa ini memberikan keseimbangan antara ruang dan karakter.
Kelebihan:
- Mendekati cara manusia melihat dunia.
- Memberi kedalaman ruang tanpa distorsi berlebihan.
- Cocok untuk dialog, adegan interaksi, hingga adegan aksi.
Efek visual:
- Natural, realistis, nyaman bagi penonton.
- Masih memungkinkan tracking shot dengan ruang yang cukup luas.
Contoh penggunaan:
- Roger Deakins sering menggunakan 35mm dalam film seperti No Country for Old Men (2007).
- Banyak film indie memilih 35mm karena fleksibilitasnya dalam ruang sempit.
3. 50mm — “Lensa Normal” dengan Perspektif Mata Manusia
Lensa 50mm sering disebut sebagai “lensa normal” karena menghasilkan perspektif yang paling mirip dengan mata manusia. Itulah sebabnya lensa ini populer di dunia film.
Kelebihan:
- Tidak ada distorsi berarti.
- Cocok untuk adegan percakapan intim.
- Menekankan karakter dengan framing natural.
Efek visual:
- Penonton merasa “hadir” tanpa sadar ada kamera.
- Memfokuskan pada emosi karakter.
Contoh penggunaan:
- Stanley Kubrick banyak memakai 50mm, termasuk di The Shining (1980).
- American Beauty (1999) menggunakan lensa normal untuk menciptakan realisme suburbia.
4. 85mm — Lensa Potret untuk Emosi Karakter
Masuk ke area telephoto, lensa 85mm adalah pilihan klasik untuk close-up dramatis. Lensa ini sering disebut “portrait lens” karena cocok menyorot wajah manusia dengan indah.
Kelebihan:
- Memberi efek kompresi ruang, membuat latar belakang terlihat lebih dekat.
- Mengisolasi karakter dari lingkungan.
- Membuat wajah terlihat lebih proporsional (minim distorsi).
Efek visual:
- Fokus penuh pada ekspresi aktor.
- Memberi kedalaman emosional.
Contoh penggunaan:
- Banyak film romantis memakai 85mm untuk menangkap momen intim, misalnya Call Me by Your Name (2017).
- Film aksi juga menggunakannya untuk hero shot.
5. 135mm — Dramatis dan Sinematis
Lensa 135mm atau lebih panjang sering dipakai untuk momen tertentu yang menuntut efek dramatis. Lensa ini memiliki sudut pandang sempit, sehingga hanya menyorot bagian tertentu dari adegan.
Kelebihan:
- Kompresi ruang yang ekstrem, membuat jarak antarobjek terlihat dekat.
- Memberikan isolasi penuh, seolah karakter berada di dunia sendiri.
- Cocok untuk adegan dramatis, slow motion, atau shot emosional.
Efek visual:
- Memberi kesan sinematis dan epik.
- Penonton fokus penuh pada detail yang dipilih kamera.
Contoh penggunaan:
- Quentin Tarantino kerap menggunakan lensa tele untuk menciptakan ketegangan.
- Dalam There Will Be Blood (2007), Paul Thomas Anderson memanfaatkan lensa panjang untuk menangkap isolasi karakter utama.
Mengapa 5 Focal Length Ini Paling Populer?
Ada ratusan focal length yang bisa dipakai dalam sinematografi, tetapi 24mm, 35mm, 50mm, 85mm, dan 135mm dianggap “paket standar” karena:
- Memberikan spektrum visual yang lengkap, dari wide hingga tele.
- Memiliki aplikasi jelas dalam berbagai genre film.
- Memengaruhi emosi penonton dengan cara yang konsisten.
- Mudah diakses dalam set produksi standar.
Kesimpulan
Focal length bukan sekadar angka, melainkan bahasa visual.
- 24mm menciptakan kesan luas dan imersif.
- 35mm memberikan realisme natural.
- 50mm menghadirkan perspektif mata manusia.
- 85mm menyorot emosi karakter dengan intens.
- 135mm mempertegas drama sinematis.
Dengan menguasai kelima focal length ini, seorang sinematografer dapat mengendalikan pengalaman emosional penonton dan membangun cerita yang lebih kuat.